Kamis, 15 Mei 2014

Ummi Dengan 2 Mujahid Cilik



Awalnya ‘biasa’ saja mendapat kabar duka tersebut, hanya menyebut Innalillahi wa innailaihi rooji’un. Tapi setelah di kroscek ke bapak qiyadah “Kak, istrinya pak Ujang itu yang Ummi-nya Zaki, bukan?” “iya..”

Seketika merasa shock, sangat shock. Dan yang hadir adalah sekelebat wajahnya, parasnya, bahasa tubuhnya ketika mengasuh dua mujahid ciliknya. Setiap kali ke As-Saakir selalu melihat beliau dengan anaknya. Apalagi waktu lagi jadi panitia DM2 disana, kita (panitia akhwat) merasa sangat merepotkan almarhumah dengan meminjam beberapa alat masak dari dapur beliau, bahkan beberapa kali beliau mengantarkan masakan lezatnya untuk kami. Ketika itu hatiku berkata (baik banget teteh ini sampai-sampai mau direpotkan dengan ngasih makanan segala meski keluarga terlihat sederhana. Aaah,  semoga Allah selalu memberkahi keluarga mereka).

Pun masih teringang ketika aku memberikan si bungsu astor, ketika itu bungsu menerima dengan tangan kiri. Lantas aku berkata “pakai tangan manis ya Dede Fayyad nerimanya” kemudian almarhumah berkata “jangan bilang tangan manis, Teh. Nanti anak bingung lagi, jangan-jangan ada tangan pahit” “Ooh, gitu ya Teh, iya juga ya Teh, hehe”

Almarhumah juga bercerita tentang pernikahannya dengan suaminya (semoga menjadi pendamping di jannahNya juga). Almarhumah berkata “Dulu Teteh nikah sama abinya, waktu abinya masih kuliah. Emang ya Teh, ikhwan itu harus terus dipecut, kalau engga yaa gitu-gitu aja, males-males aja. Soalnya waktu itu abinya lagi proses nyusun skripsi. Dan kita pun harus sabar-sabar mendampinginya, yaa Alhamdulillah selesai juga kuliahnya waktu itu”  (ketika itu si Teteh bercerita dengan senyumnya) :’)

Allah, ternyata Engkau punya rencana indah untuk keluarga kecil itu. Kini malaikat tak bersayap yang selalu meneduhi rumah mereka pergi, ya pergi untuk selamanya. Kini almarhumah (semoga) bersama dan membersamai bidadari di taman-taman jannahMu.

Allah, semoga impian almarhumah sebagai ummi dari anak-anaknya terwujud. Jagalah dua mujahid cilik itu ya Rabb. Jagalah mereka meski tanpa sayap Umminya (lagi).

Senang bisa dan pernah mengenal Teh Siti :’)

Aa Zaki dan Dedek Fayyad, tumbuh menjadi anak-anak sholih ya :)

Tulisan lain mengenai almarhumah:

http://mujahidah18.wordpress.com/2014/05/13/moga-teteh-disayang-alloh/



Selasa, 13 Mei 2014

Surat Untuk Ukhtiku Sayang


Assalamu’alaykum shalihah?
 
Khaifa khaluk? :) semoga senantiasa dalam naunganNya dimanapun engkau berada.

FYI: Nadhia buat ini ditengah malam saat mengerjakan TA yang bikin mata merem-melek, #curhat, hihii.. tiba-tiba aja inget kalian yang luar biasa.

Ternyata begini yah menjadi mahasiswi tingkat III (tapi, tingkat akhir untukku). Iya, semakin tua tingkatannya entah kenapa malah semakin jarang kumpul. Apa karena kesibukan kita berbeda-beda ya? Iya sih, itu yang menjadi alasan. Nadhia aja ke kampus terhitung 2-3 kali saja dalam sepekan.

Hey! Hatiku sedang merindu kalian loh. Rindu saat ini adalah rindu akan hal yang sudah pernah dilakukan. Itu artinya, aku memiliki ‘obat’ untuk mengobati rindu tersebut. Sebut saja obat itu adalah kenangan indah bersama kalian. :) Karena faktanya, kenangan indah itu membuat mood menjadi bagus. Bisa saja ia membuat kita senyam-senyum sendiri hihii.

Masih sangat ingat ketika tingkat I. Kita jadi bidikan para senior yang sedang mencari generasi baru demi estafet dakwah yang tak terputus. Lalu, berkumpulah kita diselasar masjid, dengan wajah-wajah polos-polos unyu-unyu. Ada yang mencoba membuka topic dengan kawan baru, ada asyik sendiri dengan dirinya, ada yang sibuk baca buku, ada yang lagi di PDKT-in sama senior, dsb. Waktu itu kita banyak loh jumlahnya! Haha. 

Pernah dilain kesempatan kita berkumpul, kita diamanahkan oleh senior dengan “saling dipersaudarakan” dengan teman baru. Tapi aku memilih dengan teman yang berasal dari sekolah yang sama, biar ga susah adaptasi (itu alasanku dulu) -_- halaaah dasar bocah milih yang enak aja. Haha. Ya, pada saat itu kita belum saling mengenal lebih jauh. Bahkan aku masih menebak mana yang namanya Merli, Ai, Hanipa, Fakhrun, Siti bahkan mengenal sosok Diah secara lebih jauhpun baru tingkat 2 -_- (gagal PDKT ini mah). Yaa, meski telat, tapi aku tetap berbahagia bisa mengenal kalian.

Aku mau mention satu-satu yaa, boleh? :D

Dear Aya, aku masih inget waktu kamu memperkenalkan DKM yang serupa dengan ROHIS kita dulu. Dan bagaimana kamu memperkenalkan Departemen Pendidikan&Kaderisasi yang katanya sama dengan tugas Isti waktu di ROHIS. Alhasil, pertama kali aku magang di departemen P&K deh, hhehe. Bahkan sampe tahun terakhir masuk sturktur (P&K abadi) -_- waktu itu juga aku milih kamu untuk dipersaudarakan supaya aku ga susah-susah adaptasi dengan yang lain, hehe, curang yah aku? :p tapi gapapalah, seru kok. Yang pasti, kamu tuh salah satu teman yang paling sabar menghadapi aku yang suka bahkan sering aneh gini -_-. Jangan kapok ya, Ndut :D

Dear Hanipa, baru kali ini loh aku punya teman asal Ambon. Dan ternyata, gadis Ambon ini memberika hello effect yang bagus untukku. Kamu aku kenal dengan sosok yang sangat bersemangat, energic, kritis, dan memiliki mimpi-mimpi yang luar biasa. Kamu punya blog bernama “sibungsuyangcerdas” bukan? Semoga malaikat meng-aamiin-kan judul blogmu itu J ketika kamu jarang hadir, itu menjadi pertanyaan dibenak kami. Kemana Hanipa? Kangen cerewetnya Hanipa ih. Ayolah, bersemangat lagi, jangan kelamaan istirahatnya ya J masih membayangkan betapa semangatnya ketika pertama kali kita syuro Pkl 06.00, sampai-sampai kamu nginep di kosan aku supaya kita ga telat. Haha. Lucu :D

Dear Merli. Buat aku, kamu satu-satunya akhwat yang paling akhwat. Sifat dan sikap lemah-lembut dan penyabarmu itu loooh, kece bangetlaaah buat aku yang suka gerabak-gerubuk -_- apa sih rahasianya, Mer? Haha. Mungkin kalau mau dibandingkan, kita sangat bertolak belakang karakternya, hehee (peace). Meski lemah-lembut, kamu tuh strong banget, tiap hari PP Bandung-Jatinangor bawa motor, melewati panas terik, hujan, angin dan ga jarang aku baca statusmu tentang banjir yang menjebak. Makin banyak deh malaikat menghitung pahalamu untuk menuntut ilmu (mengingat jarak yang lumayan).

Dear, Diah. Ini nih, kecil-kecil cabe rawit, haha. Asli-laaah, awalnya aku benar-benar ga tau yang mana Diah. Tapi sekalinya aku kenal Diah, yaa seperti sosoknya saat ini, Diah yang sudah berhijrah. Bahkan aku tidak tau sosok Diah sebelum berhijrah. Biarlah, biar saja Allah yang menutup semua itu J. Hey kamu gadis Lampung :p kamu tuh yaa, kecil-kecil strong pisaan, haha. 4 kali aku nge-track sama kamu, inget gak? Pasti ingetlaah. Dan yang pastinya, aku yang dibonceng, pasti berat yah? -_- kalau kita review tiap adegan ngetrack itu, yaampun kece badailaah. Masalahnya, medannya itu loh berkesan banget. Batu kuda yang meliuk-liuk dengan jalan yang penuh batu. Aki enin yang juga meliuk-liuk tapi menyuguhkan pemamdangan yang luar biasa. Cibaduyut yang jalannya lurus aja tapi cukup bikin badan mau remuk dan pastinya masuk angin, dan yang terakhir Garut yang kita tau mobil yang lewat itu bisa jadi truk-truk ala raksasa, belum lagi kita berangkat menjelang malam. Haha. Sudahlah, cukup menjadi cerita untuk anak-cucu nanti ternyata. Dan ketika pulang ke Lampung nanti, kamu minta beliin motor buat nge-track di Lampung yaaa :p

Dear Siti, duhduh ibu ini tuh yaaa.. kalau ngeliat ibu ingetnya kas DKM :p maklum mantan bendahara umum. Haha. Kamu salah satu akhwat yang girlie setelah Merli (menurut aku sih). Panggilan khas kamu ke aku itu “Bund (Bu Nadhia)” haha, lucuu. Kebayang wajah cemas kamu kalau kita syuro sampe sore, wajah cemas karena takut pulang kerumah sendiri. Hehe. Alhasil, ga jarang ya kamu nginep dikosan Aci? Bawa stok baju dikosan Aci, jadi kalau tiba-tiba nginep yaa udah ada baju. Hehe. Sitiiiiii, keep istiqomah yaaa. Kamu tuh ramah bangeeeet tau, belum pernah aku liat kamu marah :)

Dear Ai. Wanita bersemangat yang paling banyak digandrungi adik-adik kelas. Mungkin karena pembawaan ceriamu yang membekas di daya ingat mereka. Kadang iri sih dengan keceriaanmu, masalahnya aku baru bisa ceria-ceria bahagia kalau didepan orang yang akrab, lain dengan kamu yang sangat luwes dalam bergaul. Kamu juga cukup terkenal di kampus, iyalaaah secara kamu perintis ECI dan menjadi andalan kampus untuk menjadi Master of Ceremony diberbagai acara, mungkin ketika Agustus besok aku wisuda, kamu yang akan memanggil namaku :). Belum lagi kemampuan bahasa Inggrismu yang kece, ah dahsyatlah sosok Ai Ratih ini! :) dan betapa bahagianya aku ketika melihat proses hijrahmu yang perlahan tapi pasti, semoga Allah mengistiqomahkanmu ya :)

Dear Fakhrun, tapi aku lebih biasa manggil Nisa.  Nisaaaaaaa, aku jadi dekat dengan kamu ketika kamu maju di ajang PEMIRA kampus. Waktu itu kamu menjadi calon wakil-nya Dindin. Kalau mau diputar kenangan itu, masih ingat ekspresi wajahmu yang kaget-kaget, mau tidak mau ketika kita amanahkan untuk maju. Kamu keren! Inget kata beberapa adik tingkat gini “seneng kalau ketemu teh Farun, selalu ceria, selalu nyapa, dan ga pernah jutek” yap! Bener banget, aku akui juga loh Niiiiiis, meski kita bertemu disebrangan, pasti kamu menyapa. Hehe, ceria banget sosok kamu. Kamu juga punya imajinasi yang keren akibat bacaanmu banyak. Sangat banyak! Huaaa, mau kayak gitu juga. Oh iya, kita punya mimpi yang sama kalau ga salah: membuat perpustakaan pribadi, iya kan? :) semoga Allah ijinkan ya mimpi kita itu :)

Yaa, itulah celoteh dari Nadhia untuk kalian ukhti-ukhti shalihah. Allah mengirimkan kalian untuk kita bersama-sama berjuang. Ya, meski saat ini banyak dari kita yang sudah memiliki kesibukan lain-lain. Tapi tetap kok, nama-nama kalian menjadi bagian terindah dihidupku (semoga kebalikannya juga yaa) hehe.


Kata Ust. Salim, manisnya ukhuwwah itu karena iman yang sehat. Lantas, jika ukhuwwah kita sedang pahit, mungki iman kita sedang sakit (?). wallahu’alam.

Semoga Allah selalu menjaga kita disetiap aktifitas kita dan selalu mengarahkan kita untuk berbuat yang baik terus menerus. Sehingga kita menjadi muslimah yang berdedikasi tinggi untuk perbaikan ummat. Aamiin.

Dan, jadilah muslimah yang dicemburui oleh bidadariNya, yuk sama-sama belajar dan saling mengingatkan :)


Jatinangor, 13 Rajab 1435 H
Ditengah sepinya malam hari~

Iniiiii, ada banyak lampiran foto-foto selama kita bersamaa :D
 

(Narsis dikit di Dream :D)

 (Hangout di Jatos, ini tahun 2012)

(Sempet selfie ditengah-tengah jadwal kampanya AktifOne)

 (Ngerameeeeen :D)

(Narsis di depan FMP Jepang, ini aku lagi milad kalau ga salah :D)

(Abis mabit, ini mabit perdana kita loooh~) 

(Abis Idul Adha 2012, wajah lelah semua tuh, hihii)

(Pengukuhan 2012, aku jadi peserta tapi, haha. @Batu Kuda)


(Sesi pemotretan saat pengukuhan 2013 @Batu Kuda (lagi) :D)

(Sidang Tahunan 2013, jadi tontonan ikhwan waktu kita narsis begini -_-)

 (@Aki Enin. Katanya sih rihlah kesini, tapi tetap aja kita syuro :p)

**
Narsis everywhere~ haha :D

Selasa, 06 Mei 2014

Kemantapan Iman

Based on wejangan Ummi-nya salah satu sobat.

"Kita itu harus memiliki standar dalam iman (beribadah), standar yang kita miliki juga bukan standar yang biasa. Tapi standar yang diatas rata-rata, yang jika orang menilai itu tinggi tapi menurut kita itu hal biasa dan menjadi habits. Supaya apa? supaya jika kita terjatuh maka tidak akan terlalu jauh jatuhnya, ya setidaknya jatuh ke standar minimal orang kebanyakan"

** 
Menikah itu bukan hanya perkara suka sama suka, sayang sama sayang ataupun cocok sama cocok. Tidak dipungkiri sih hal tersebut menjadi salah satu indikatornya. Tapi perkara yang paling penting ialah sejauh mana kemantapan iman kita. Karena, pernikahan itu bisa menjadi representasi keimanan seseorang. Kutipan diatas merupakan nasihat yang menjadi perkara utama dalam hal memutuskan untuk menikah. Beliau (Ummi-nya sobat) bilang gini "Bayangkan aja kalau iman kita lagi compang-campingnya dengan dibawah standar kemudian datang seorang ikhwan melamar, mungkin bisa jadi keimanan ikhwan tersebut juga sedang compang-camping. Karena apa? Karena pasangan hidup kita kelak adalah cerminan kita. Pun ketika iman kita sedang compang-camping rapuhnya datang seorang ikhwan yang memiliki track record 'soleh', mungkin bisa jadi kita menolaknya dengan banyak alasan (belum punya penghasilan banyaklah, engga membina banyak kelompok-lah, engga keren-lah, tidak sesuai standar fisik kita-lah, dsb) yang pada dasarnya itu bukanlah alasan mutlak untuk menolak seorang ikhwan. Tapi, begitu bahagianya jika iman kita senantiasa dijaga dengan standar-standar luar biasa. Mungkin ketika seorang ikhwan yang melamar kita dan ikhwan itu terhitung sederhana, tapi dengan kelapangan dada kita menerimanya. Karena kita yakin, cerminan iman ikhwan itu tidak jauh beda dengan kondisi kita saat dilamar."

"Belum tentu ikhwan yang selama ini kita anggap keren dengan track record amanah dimana-mana, memiliki kelompok binaan bejibun, rajin ngisi kajian sana-sini, memiliki maisyah bejibun itu menjadi (tetap) keren ketika sudah menikah. Karena kita tidak tau kondisi keimanan mereka seperti apa ketika menikah. Mungkin saja sedang tercabik-cabik."

#plak!
Bagaikan ditampar dengan kata-kata standar iman. Jadi teringat dengan kisah pernikahan Ummu Sulaim dan Abu Thalhah, entah sedahsyat apa kondisi keimanan Ummu Sulaim saat itu sehingga mau menerima pinangan Abu Thalhah dengan syarat keislaman beliau (Abu Thalhah) dan betapa keimanan menjadi landasan cinta mereka dalam merenda rumah tangga, pun dalam Abu Thalhah mencintai Ummu Sulaim.

**
Masya Allah..
Betapa kita selalu dituntut menjaga eksistensi keimanan kita dihadapanNya. Bukan semata-mata hanya untuk mendapatkan jodoh yang baik, tapi untuk menggapai ridhoNya. Untuk apa kita mendapatkan jodoh yang baik (menurut kita) tapi ternyata tidak sesuai dengan ridhoNya? Sehingga selalu datang prahara ketika kita merenda rumah tangga. Na'udzubillah.
Tapi sebaliknya, betapa bahagianya ketika iman kita sedang tahap melonjak-melonjaknya kemudian kita menikah. Maka akan tercipta keluarga yang senantiasa sakinah dalam kondisi apapun, serta mawaddah, warahmatan lil'alamin (keberadaan keluarga kita bermanfaat untuk ummat).  
Masya Allah..

Allah, titipkanlah pada kami hati yang senantiasa lapang. Lapang dengan segala macam skenarioMu. Selapang samudra tak bertepi. Selapang langit yang membentang biru tanpa batas. Bantulah kami menyingkirkan perkara duniawi yang mungkin sudah mengakar pada hati kami. 


Bersama sudut hati yang sedang disusun kembali..
Jatinangor, 7 Rajab 1435 H.

Jumat, 28 Februari 2014

Mau Nulis Ah!

Mau Nulis Ah!

Kata orang, kalo ga punya inspirasi tapi mau nulis, yaa nulis aja apa yang ada di benak :D

Well, jadilah judulnya "Mau Nulis Ah!" hehe..

mau buat tulisan di penghujung Februari ini. Bulan ini, akhir bulannya lebih cepet, jadi makin banyak saying Hamdallah deh buat anak kost #eh :D

mau mengabadikan hari ini aja lewat tulisan, biar next time bisa senyam-senyum sendiri kalo bacanya
Jum'at. Curhat. Penat. Padat. Hectic. Oalaah -,- nano-nano hari ini.

 **
Ngampus,
Urus surat-surat akademik,
ke Perpus,
Dengerin curhat temen yang ditolak draftnya :'(
Bimbingan dengan dosen yang flat banget ekspresinya -,-
Bolak-balik fotocopyan,
Ngeprint,
Ke TIKI ngirim lamaran,
Beli snack buat praDM,
Jemput akhwat Sumedang,
Ke Muskam,
PraDM --> ter-charge lagi tsaqafahnya, senang..senang :D

Finally, back to dorm! :D

**
Oalaah, berasa hectic banget. And I felt like that every friday! -_-
But, i'm happy! really happy!
Ada kepuasan tersendiri kalau udah memasuki senja dan sudah melakukan banyak hal. Ketimbang cuma dikosan aja "nyetrika kasur" -_- haha.

**
Nangooooor, i feel comfort with you :3
Ditiap harinya, ada aja cerita baru yang tergoreskan.

**
Ohya, jangan keseringan 1x24 jam yaa baru ketemu nasi, tubuhmu punya hak yang harus dipenuhi! huft~~

**
And, besok aku akan kumpul sama Circle Genks!
Huaaaa, long long looong time no see bangeeeets. Miss you, Genks! :3

**
Good night!
Sampai jumpa bsok Putri Bumi, dibulan Maret yang pasti lebih kece!
Berbahagialah selalu yaa ^^

-Dorm Sweet Dorm,
Wisma Aida, Jatinangor :)

Selasa, 18 Februari 2014

Bersamamu

Sebut saja kamu Spongebob, karena aku mendapatkan julukan Patrick-nya -_- haha, lucu memang kita. Berkesempatan bersama denganmu (lagi) dalam kurun waktu yang entah sampai kapan membuatku bahagia. Kenapa? Karena hal ini yang aku nantikan setelah adanya kisah silam yang kelam. Aaah, sudahlah! itu hanya bagian dari masa lalu yang akan menjadi kenangan diantara kita. Dan mungkin tak akan pernah kita bahas pada saat ini ataupun saat-saat setelah ini. Cukup kita memetik hikmahnya dan menjadikan si Patrick semakin mengenal si Spongebob pun sebaliknya :p

Qodarullah memang. Di penghujung waktu kita ini, Allah menjadikan kita bersama kembali. Meski awalnya aku sempat bertanya, apakah motif dari kebersamaan kita ini (lagi?). Tapi sudahlah, itu hanya bisikan setan yang tidak menyukai kebersamaan kita. 

Hey, si Patrick ini tidak berubah, kan? Iya, si Patrick masih saja dengan sifat manjanya. Apalagi kebersamaan kita yang hampir tiap waktu membuat aku lebih sering bermanja denganmu. Entah kamu yang memasak untuk kita makan, entah kamu yang bersikap lebih dewasa dsb, hihii.. banyak deeh. Yang pasti, kamu salah satu sohib yang paling sabar dengan segala tingkahku yang kata orang freak -_-

Berada disatu atap, melangkahkan kaki di pagi hari bersama, tidur diatas kasur yang sama, memakan makanan yang (hampir) selalu sama, membuatku bersyukur karna Allah mengizinkan aku untuk merasakan moment-moment indah ini (lagi). Waktu memang akan membawamu pada penghujung kerinduan. Ya, karna aku sempat rindu padamu akan hal-hal diantara kita.

Kau tau, Spongebob? Kelak ketika kita dewasa dan sudah memiliki kehidupan masing-masing, akan sulit menemukan golden moment seperti saat ini. Karena orientasi kita sudah berbeda. Pun sudah memiliki dunia yang berbeda pastinya. Kalau kata Project Pop sih "Jika tua nanti kita tlah hidup masing-masing, ingatlah hari ini" :D

Bahagia itu sederhana, karena bersama denganmu cukup membuatku bahagia :)

**
Selamat Malam, Spongebob. Salam Bahagia akan dibisikkan oleh angin malam untukmu :)

**
Bandung, Gg. Adikacih, kosan Ibu Mely (yang akan menjadi saksi bisu cerita kita).

Senin, 17 Februari 2014

Aku Harus Mencintainya



Dengan segenap logika dan perasaan, aku harus rela ia membersamaiku selama hampir 6 tahun. Meski aral-rintangan sering menghampiri kita. Tapi aku harus terus bertahan dengan alasan “sudah terlanjur basah” aiih, bolehkah alasan ini aku gunakan hingga detik ini? Bahkan untuk proyek masa depan selanjutnya? 

Harus dibersamai sesuatu yang akupun mencintainya secara parsial itu rasanya memang menggelitik. Semacam cerita klasik tapi memang masih berlaku untuk dekade ini. Seperti ingin jalan-lari-bahkan kabur dari semua ini, tapi tidak mungkin, kalau hal ini dilakukan, aku semacam anak kecil yang belum bisa menggunakan logika dengan normal saja. 

Sudahlah, hadapi saja apa yang sudah terbentang didepan matamu, apa yang sudah kamu pilih didalam hidupmu ini. Barangkali ini salah satu jalan yang akan mengantarkanmu pada mimpi-mimpi cantik yang sudah kamu rangkai, ya, barangkali. 

Hingga detik ini juga, aku masih mencari solusi yang mampu membuatku bertahan dan membuatku akan melanjutkannya di masa akan datang. Yeah, maybe. Mengkolaborasikan faktor X+Y sehingga menjadi Z itu butuh pemikiran khusus dan stock mood yang cukup banyak. I think~

Tugasku sekarang adalah menjadi manusia yang tidak mengenal kata menyerah apalagi berputus asa atas apa yang sedang aku tempuh. Huh! Harus aku implementasikan kata-kata ini, meski harus tertatih langkahku. Bisalah, ya kan?

Baca lagi sejarah orang-orang hebat yang pernah menempuh jalan ini sebelumnya. Jadikan mereka pemantik semangat si bungsu ini. Dan ternyata mereka memang sudah sangat mencintai apa yang mereka pilih (tentunya). 

Lagi-lagi, cinta menjadi kunci sebuah pilihan. Menjadi kunci segala kunci dari setiap episode kehidupan. Lantas timbul pertanyaan, bolehkan kita mencintai sesuatu secara parsial?

**
Ini hanya goresan aksara yang sedang menari menggelitik di benak. Menyaksikan realita (bahkan menjadi bagian dari pelakunya). Akankah aku bisa bertahan dengan demikian, seperti mereka yang sangat menikmati perannya dibalik meja. Disaksikan detak jam yang senantiasa bergulir tanpa menunggu apapun darimu, bahkan bisa saja ia membunuhmu. Akankah aku bisa? Itukah passion-ku?
**
Lagi-lagi tentang passion. Terimakasih pada konspirasi semesta yang membuatku mencintai hal lain yang baru saja membersamaiku. Sebut saja ia dunia menulis, sastra dan sejenisnya. Tetaplah bertahan membersamaiku hingga ruh berpamitan dengan jasad milikNya ini..

**
Selamat malam, langsung dari Bandung, Gg. Adikacih, kosan Ibu Mely.