Senin, 03 November 2014

Tuhan Maha Romantis

"..Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung" (Qs. Al-Jumu'ah:10)
Dua bulan tak menyempatkan diri berbagi kisah di blog yang ala kadarnya ini, dan pada malam ini (menyempatkan diri) untuk membiarkan jemari mengetik-meraba diatas keyboard lepy. Ya, semoga keberkahan dan ampunanNya selalu menyelimuti si penulis ini serta para pembaca, yang tentunya kami hanyalah manusia biasa pemilik beribu pinta tetapi juga pemilik beribu-ribu dosa. Faghfirlana..
Tuhan itu Maha Romantis (pinjem kalimatnya Azhar Nurun Ala, hehe). Iya, Ia sangat romantis dengan mengatur segala pernak-pernik kehidupan kita. Mengatur agar galaksi di angkasa sana tidak saling bertabrakan. Mengatur agar tiap-tiap anak-cucu adam tidak berebutan oksigen. Dan masih banyak lagi hal romantis lainnya yang Ia lakukan untuk kita. Romantis bukan?
Sekalipun itu orang terkasih yang kita amat sangat sayangi, tidak akan pernah mereka melakukan hal se-romantis itu. Jadi, menunggu apa lagi untuk tidak mencintaiNya? :)
Ah, tulisan kali ini akan lebih random ini. Ceritanya ada banyak hal yang mau diceritakan, tapi udah keburu wordless, hehe.
September yang wisudaan, akhirnya merasakan kebahagiaan setelah berlelah-lelah menyusun Tugas Akhir sekian bulan. Bahagia melihat mereka bahagia, pun kebalikannya.
Kemudian bolak-balik Jakarta-Nangor untuk keperluan ini itu. (Lagi-lagi) Nangor selalu menunggu-mu untuk kembali (lagi, lagi dan lagi). Karena masih ada PR yang bertengger disini. Ya, Tuhan memilihmu untuk mengemban amanah itu di Nangor. Masih mau ngelak? Sulit lah ya ketika Ia sudah berkehendak. Hoho.

Amanah di Nangor (nambah kontrak), ada amanah akademik (yang berlanjut, Alhamdulillaah), amanah ummat yang luar biasa *fiyuuh*. Da aku mah apa atuh, cuma hamba Allah yang masih saja mengais ampunanNya tapi masih Ia percayakan amanah ini sama aku~ 
Sempat berfikir panjang dan banyak (juga banyak tanya dengan si peng-khitbah amanah), kenapa harus gue? rasionalisasinya? yang laen aja gimane? (jawabannya udah tau padahal, tapi tetep aja masih maju mundur gitu untuk menjalankan amanah tersebut.
Alhasil dengan Basmallah, dan meminta support warga sekitar Nangor (emang mau jadi RT Nadh? -_-) akhirnya pinangan amanah itu ane terima *dagdigdug*.
Rabb, ketika gunung dan bumi menolak amanah dariMu, aku hambaMu yang masih cacat amalannya berani menerima amanah ini? Kuatkan pundak-pundak ini duhai Rabb. Jangan biarkan ada yang terdzholimi dengan aku menjalani amanah ini. Ya, jangan sampai duhai Rabb.

Kemudian, akhir september, ane memulai merealisasikan ilmu-ilmu bisnis yang selama beberapa tahun ini dijalani dengan merintis bisnis kecil-kecilan (dengan harapan bisa menjadi besar, aamiin). Namanya Hisaan Collection. Produknya untuk sementara waktu (masih) kerudung buatan sendiri, berharap beberapa waktu kedepan bisa berkembang dengan menyediakan kebutuhan fashion para akhwat. Berharap juga lewat bisnis ini ane dan Diah (partner bisnis) bisa berdakwah, mensyiarkan islam dengan cara ini. Aamiin (mohon doanya yaa para pembaca yang shalih, shalihah).

Target demi target yang ditulis setahun lalu itu beberapa sudah tercoret, tidak sabar untuk segera mencoret target lainnya.
-Menikah
-Mompreneur (sekarang masih preneur-nya dulu belum jadi mom)
-Selesai S1 akhir tahun 2015
-Naik gunung yang lebih tinggi dari Manglayang :p
-Dan yang pasti, ngafal ayat cintaNya (meski masih merangkak-rangkak untuk menjalaninya) huft.
..kemudian meninggal dalam husnul khotimah..
-Daaaaan impian lainnya yang sudah ditulis di dream paper..

Dua bulan yang romantis dengan skenarioNya,
Senang
Berbahagia
Rindu
Sedih
Air mata
Perasaan sesak 
aah, mari ciptakan ruang baru di hati untuk hal yang baru..

Ya, cukup dulu sepertinya.
Dari si faqir ilmu, yang masih saja mengais-ngais hikmah dimanapun. Semoga Allah selalu merahmati dan meridhoi hambaNya. Aamiin.


Selamat malam Langit bersama bulan cantik ^^
10 Muharram_

Jumat, 08 Agustus 2014

August Is Yours

Tepat hari ini, 8 Agustus di sebuah kota bernama Bengkulu. 24 tahun yang lalu ia merintih kesakitan dan tersenyum berbahagia dengan hadirnya anak pertamanya. Putri pertama lebih tepatnya.
Kini, putri itu sudah beranjak dewasa. Bahkan sudah pantas memiliki putri juga :)

Aku mengenalmu 21 tahun, ya mengenalmu sepanjang usiaku. Kita berbeda 3 tahun. Kini kita sudah tumbuh menjadi anak gadis mama yang cukup 'subur', ya ya ya sesuai kok dengan gen orang tua kita yang tidak kecil :p
Tapi, semenjak aku usia 5 tahun, kita mulai belajar hidup bertiga. Hanya bertiga hingga hari ini kau berusia 24 tahun. Dan pada akhirnya, sejak 6 tahun lalu, kita benar-benar hanya hidup bertiga. Kini hanya bisa berkirim do'a untuk pria itu, yaa kalau dulu pisah masih bisa komunikasi lewat HP jadul itu, hihi (masih inget kan HPnya kayak gimana? :p)

Ternyata cukup banyak ya kisah pahit manis kita bertiga ini, kalau nostalgia cukup geli tertawa bahkan menangis mengingatnya, hehe.

**
Kak.. Kak..
Ini tulisan pertama buat kakak loh :p
Selamat Ulang Tahun yah kak. Selamat bermuahasabah atas berkurangnya jatah hidup di dunia. Semoga Allah selalu melindungimu, memberkahi segala aktifitasmu serta memudahkanmu untuk menggenapkan separuh agamamu. Aamiin. 
Janji yah kak, kita bakal kumpul di Syurga Allah kita bertiga plus Papa :D 
Jangan sampai ada yang tertinggal satupun loh :D

**
Bahagianya bisa saling membersamai. Meski aku sering jadi adik nakal untukmu kak :p
Do'akan juga adikmu ini agar segera memiliki maisyah sendiri biar ga minta uang jajan lagi sama kakak, hoho :D
Serta impian ke Turki bisa terwujud, hihii aamiin.

**
Suatu saat, kita akan memiliki bangunan kokoh dan permanen yang kita miliki sendiri atas ijinNya.
Mudahkan ikhtiar kami, duhai Rabb ^^


Jumuah Mubarak, menuju waktu ashar :)
8 Agustus, 12 Syawal..
Jakarta..

Jumat, 18 Juli 2014

Malam 21 Ramadhan



“Jika tiba di 10 malam terakhir ramadhan, Rasulullah mulai mengencangkan ikat pinggangnya” (Hadits)

**
Kulihat, kios milik ikhwan itu sudah tutup sedari aku berangkat tarawih tadi. “Mungkin beliau sedang menjalankan sunnah rasul di 10 malam terakhir ramadhan” (gumamku)

**
Bahagianya insan yang bisa menikmati, menjamu datangnya malam-malam ganjil di 10 malam terakhir ramadhan. Selamat berlayar bahagia bersama syahdunya malam milikNya :')

Apa daya, di ramadhan tahun ini (pun) aku sulit mendapatkan ijin untuk i’tikaf. Hanya bisa memanfaatkan malam-malam ganjil terakhir ini dengan usaha seorang diri :')

Sungguh, aku semakin ingin cepat menikah. Menikah dengan seseorang yang jika bersama dengannya, kami bisa memuliakan sunnah-sunnah rasul :') 


Mari langitkan do’a-do’a mu Nadh, Allah Maha Mengetahui isi hatimu :')



Rabu, 16 Juli 2014

Tersadar Aku

De' sholat bareng, kita?
Iya yuk Ma, Mama imam?
Jangan deh, kaki Mama sakit. Ade aja ya, hehe.
Oke Ma.

**
Berniat menghamba padaNya dengan membonceng Mama disamping shaf sholatku. 
Tiba di rakaat kedua, Mama tidak kuasa untuk kembali berdiri dari sujudnya. Kemudian ia memilih sholat dengan duduk. Tak apa (batinku) karna Allah sudah memberikan kemudahan untuk hambaNya yang sulit beribadah karna alasan syar'i.
Terlepas dari hal rukhsoh tersebut. Batinku-pun juga tersentak. Sudah beberapa kali Mama mengeluhkan rasa sakit pada kakinya, entah ketika kami saling menelpon, entah ketika kami saling bercakap. Mama bilang "dibagian sini De sakitnya, (sambil menunjuk pada salah satu bagian), terasa ada yang jalan gitu De didalam tulang, gatau deh apa lagi sakit yang dirasa" (kemudian hening....)

**
Ma, Ade pun tidak pernah tahu apa yang Mama rasa sebenarnya. Ade hanya bisa menyimak rasa sakit Mama. Atau memijit Mama dengan semampu Ade.
Aku pun tersadar, Rabbi raga yang dulu bersusah payah mengandungku kini semakin payah ditelan oleh masa. Bahkan hingga detik ini pun, raga itu masih saja bekerja untuk memenuhi apa kebutuhan anaknya. Aku sangat malu padanya Ya Rabb.

**
Kulit itu kini kian mengeriput,
Tulang-tulang itu kini semakin mengeropos,
Gigi-gigi itu semakin menunjukkan keompongannya,
Rambut yang kian hari kian memutih.

**
Rabb, aku tahu sekeras apapun usahaku untuk membantunya dalam segala hal tak akan mampu terbalaskan semua jasa yang sudah ia berikan untukku. Tak akan pernah terbalas. Hutangku sangat banyak padanya Ya Rabb. Maka dari itu, hati kecilku hanya bisa berdo'a yang terbaik untuk malaikat yang sudah Kau kirim untukku. Rabbi, indahkanlah perangaiku dihadapannya, jangan biarkan aku menyakitinya (lagi) dari sikap-sikapku. Sungguh, aku sangat mencintainya dengan segala 'keterbatasannya' sebagai manusia, meski 'terbatas' ia sungguh 'sempurna' untuk hidupku. 
Jagalah ia selalu Ya Rabb. Perkenankanlah salah satu JannahMu untuknya. Aamiin.

**
Ijinkanlah kesabaran menyelimuti hati yang kecil ini untuk mengurusnya, menjaganya di masa tuanya.


Jakarta, 18 Ramadhan 1435 H.
Disampingnya tidur aku merangkai aksara ini :")

Rabu, 11 Juni 2014

Para Musafir Jalanan

Sejauh kaki mereka melangkah hingga detik ini, masih terpaut-kah hati mereka pada bangunan sederhana ataupun megah namun mendamaikan hati mereka?
Adakah kerinduan itu?
Kerinduan pada penghuni bangunannya,
kerinduan pada tata letak isi bangunan itu,
kerinduan pada aroma lezat yang terbawa angin ketika fajar ataupun senja,
kerinduan pada tiap ritme kegiatannya,
Masih adakah kerinduan itu?

Lagi-lagi aku menganalisis bahasa tubuh manusia.
Diamnya,
bicaranya,
melangkahnya,
tertawanya,
tersenyumnya,
candanya,
sorot matanya,
lalu, akupun hanya bergumam dalam hati.

Hah, entah mau kemana dan dirancang seperti apa manusia-manusia tipe ini. Adakah diantara dering handphone-nya itu adalah sosok dua malaikat kehidupannya yang sedang mencarinya? "lagi dimana? acara apa? sama siapa aja?" dan pertanyaan yang mengusik hati "kapan pulang kerumah?"
Huft, sudah berapa lamakah mereka demikian?
dan akan berakhir seperti apa ya?
Apakah akan bearkhir dengan menetap disebuah rumah nan menentramkan bersama keluarga bahagianya?
Ataupun selalu berpindah-pindah dengan keluarga bahagianya dari satu tempat ke tempat lain sehingga banyak surat-menyurat keluarga yang selalu diurus tiap saat?
Entahlah..
Hanya cuap-cuap setelah dua hari bersama para musafir jalanan :'D

**
hey kakak-kakak KAPAL, syemangat terus yah mengarungi bahtera hidup ini!
dan segeralah merajut indahnya bahtera rumah tangga, supaya kaliah ada yang merawat dan menjadi lebih terawat :3
Kalian keren!

**
Dari bocil yang sempet ngekor agenda kalian, hihiii :p

Jatinangor, 11 Juni 2014
22.33 WIB

Minggu, 08 Juni 2014

7 Juni

Semacam beruntung pulang lewat dari waktu maghrib, beruntung bisa memandang langit pekat malam ini. Menghitung hari menuju si purnama muncul. Setiap bulannya selalu demikian, kerap menghitung hari menanti si purnama. Aaah, betapa hati ini terpesona dengan sorot matanya ke bumi. Betapa ia selalu memperhatikanku meski terkadang aku cuek menunduk terpaku pada tanah yang aku pijak.

Ma, aku suka langit. Suka. Sangat suka.
Jika ada toko yang menjual sayap untuk terbang ke langit, sangat ingin aku dihadiahkan itu di bertambahnya usiaku yang dua hari lagi. Tapi sayang, it just my imagine.

Dan kini aku belajar lagi satu hal, ternyata perasaan seseorang tidak bisa seutuhnya diukur lewat keadaan langit saat itu jua. Terkadang keduanya tidak sinkron. Yakinlah. Mungkin seperti halnya malam ini.

Langit-Perasaan-Hati-Anak Manusia.

Malam

**
8 Juni ba'da subuh, tulisan ini baru diposting :')
Sampaikan aku pada malam ini, Langit :)

Selasa, 03 Juni 2014

6 Manfaat Menikah di Usia Muda



Dalam haditsnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan para syabab untuk menikah.
يَامَعْشَرَ الشَّبَابِ: مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ
“Wahai pemuda, barangsiapa di antara kalian telah mampu maka hendaknya menikah, karena ia lebih menundukkan pandangan dan lebih memelihara kemaluan. Dan barangsiapa yang belum mampu, maka hendaknya ia berpuasa, sebab ia dapat mengekangnya.” (HR. Bukhari)
Syabab biasa diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi “pemuda.” Berapakah usianya? Fauzil Adhim dalam buku Indahnya Pernikahan Dini menjelaskan, syabab adalah sesesorang yang telah mencapai masa aqil-baligh dan usianya belum mencapai tiga puluh tahun. Asalkan sudah memiliki ba’ah (kemampuan), maka ia dianjurkan untuk segera menikah. Dan kini terbukti, banyak manfaat menikah di usia muda di balik perintah Rasulullah ini.

1. Lebih terjaga dari dosa
Sebagaimana sabda Rasulullah tersebut, menikah di usia muda itu lebih membantu menundukkan pandangan dan lebih mudah memelihara kemaluan. Seorang yang menikah di usia muda relatif lebih terjaga dari dosa zina; baik zina mata, zina hati, maupun zina tangan.

2. Lebih bahagia
Hasil riset National Marriage Project’s 2013 di Amerika Serikat (AS) menunjukkan, persentase tertinggi orang yang merasa sangat puas dengan kehidupan pernikahan adalah mereka yang menikah di usia 20-28 tahun.
Mengapa pasangan muda lebih bahagia? Sebab mereka umumnya belum memiliki banyak ego-ambisi. Pasangan muda lebih mudah menerima pasangan hidupnya. Bahkan, ketika sang suami belum mapan secara ekonomi dan akibatnya hidup “pas-pasan”, mereka tetap bisa enjoy dengan kondisi tersebut. Hal ini sejalan dengan hadits atsar Ibnu Umar: “Nikahilah oleh kalian gadis perawan, sebab (..salah satunya..) ia lebih ridha dengan nafkah yang sedikit.”

3. Lebih puas dalam bercinta
Pasangan yang menikah di usia 20-an cenderung melakukan jima’ lebih sering daripada mereka yang menikah lebih lambat. Hasil studi Dana Rotz dari Harvard University pada 2011 menunjukkan, menunda usia menikah empat tahun terkait dengan penurunan satu kali jima’ dalam sebulan.
Sedangkan dalam tingkat kepuasan, menikah di usia muda –diantaranya dengan dukungan fisik yang masih prima- membuat suami istri lebih menikmati. Lagi-lagi, hal ini bersesuaian dengan hadits atsar Ibnu Umar: “Nikahilah gadis perawan, sebab ia lebih segar mulutnya, lebih subur rahimnya dan lebih hangat farjinya…”

4. Emosi lebih terkontrol
Menikah di usia muda terbukti lebih cepat mendewasakan pasangan tersebut. Dalam arti, menikah dan berumah tangga membuat seseorang lebih terkontrol emosinya. Ini dipengaruhi oleh ketenangan yang hadir sejalan dengan adanya pendamping dan tersalurkannya “kebutuhan batin.” Dan itulah diantara makna sakinah dalam Surat Ar Rum ayat 21.
Hasil studi sosiolog Norval Glenn dan Jeremy Uecker pada tahun 2010 mendukung hal ini. Menurut hasil studi tersebut, menikah pada usia muda akan lebih bermanfaat dari sisi kesehatan dan mengontrol emosi.

5. Lebih mudah meraih kesuksesan
Sebagian orang menunda menikah dengan alasan mencapai jenjang karir tertentu atau hidup mapan terlebih dahulu. Padahal, saat seseorang telah menikah, ia menjadi lebih tenang, merasakan sakinah. Dengan ketenangan dan stabilnya emosi ini, ia bisa lebih fokus dalam meniti karir dan beraktifitas apa pun, baik dakwah maupun mencari maisyah. Karenanya tidak mengherankan jika banyak orang-orang yang sukses di usia 40-an adalah mereka yang menikah di usia 20-an.

6. Lebih baik bagi masa depan anak-anak
Lebih baik bagi masa depan anak-anak di sini bukan berarti menikah di usia muda memungkinkan anak sudah dewasa saat Anda pensiun. Meskipun, hal itu juga bisa menjadi salah satu pertimbangan.
Namun yang lebih penting dari itu, menikah di usia muda dan memiliki buah hati di usia muda, saat Anda belum mapan secara ekonomi berarti Anda dapat mendidik anak-anak secara langsung merasakan pahit getirnya kehidupan. Artinya mereka telah mencicipi perjuangan Anda. Dan jangan sampai anak-anak hanya tahu fasilitas dan hidup enak tanpa merasakan hidup adalah perjuangan.

Wallahu a’lam bish shawab. 
Sumber : http://webmuslimah.com/6-manfaat-menikah-di-usia-muda/