Senin, 30 September 2013

Kehilangan Jarak

Assalamu'alaykum ukhti sholihaah..

Apa kabarmu?
Hmm.. nadhia rindu loh sama kamu, hehe. Apa banget ya? Segala rindu, padahal masih bisa ketemu tiap harinya :p
Nadhia kutip kata "rindu" ini.. bukan rindu akan sebuah pertemuan yang intens, tapi rindu akan ada sesuatu yang hilang diantara kita.
Kamu merasakannya juga ga?

Keadaan kita saat ini menyadarkanku tentang definisi jarak. Ya, jarak. Ternyata tidak selamanya jarak yang sejengkal, sehasta ataupun sedepa akan mempengaruhi ke-harmonisan sebuah hubungan. Bahkan, jarak itu perlu menjadi bumbu dalam sebuah hubungan, agar ia semakin erat dan semakin saling mengingat. Tapi nyatanya juga, banyak anak manusia yang tersiksa karena jarak.
Aku pun tidak ingin menyalahkan jarak kita saat ini. Bahkan, aku sangat bersyukur atas kesempatan ini, dimana aku bisa kapan saja bersua, berkunjung kepadamu.
Tapi..
Saat ini, semua itu tidak semudah aku membuat tulisan ini. Sekarang dan dari beberapa bulan lalu, seakan ada tembok pembatas diantara jarak kita yang dekat.
Mungkin, aku yang terlalu 'autis' dengan aktifitasku..
Mungkin, aku yang kurang peka kepadamu..
Mungkin, iman-imanku sedang lemah sehingga berimbas kepada ukhuwah kita..
Mungkin, aku manusia ber-ego tinggi yang selalu saja menurutinya tanpa peduli dengamu..
Mungkin, sikap tertutupku padamu yang membuat tembok itu semakin tebal dan tinggi..
Aku yakin, kemungkinan itu pasti lebih banyak datang dari aku. Maafkan aku ya sholihaah :'(
Aku tau bahkan merasakannya, bahwa anak perempuan menjelang wanita-remaja menjelang dewasa-sekalipun itu akhwat, yang katanya kita termasuk kedalam golongan itu sekalipun, butuh perhatian yang agak lebih, butuh seseorang yang siap sedia untuk bisa menjadi pendengar cerita meskipun hanya didengar dan tak diberi solusi cemerlang.

Dan di usia seperi kita ini, memang rentan dengan hubungan 'istimewa' yang biasa disebut 'pacaran'.
Wallahu'alam sholihaah, inilah salah satu kesalahanku padamu. Aku sebagai orang yang menjadi saksi berhijrahmu merasa kehilangan, merasa ada yang merampasmu dariku.

Dulu, kita pernah membahas tentang hubungan istimewa itu, bukan? Dan dulu, seakan kita sepakat bahwa kita tidak setuju dengan jalan itu. Tapi, lagi-lagi, ini adalah hasil ke-egoanku padamu.
Kau tau? Aku akan tetap menjadi Nadhia yang dulu, yang suka bermanja denganmu, Nadhia yang masih suka dengan boneka spongebob dan hingga detik ini boneka itu masih setia menemani aku tidur :D, aku juga masih Nadhia si anak mama yang suka cerita tentang mama dan kakak. Ya, aku masih Nadhia yang dulu. Juga dengan hati dan telinga ini yang masih sama dengan dulu, yang masih siap sedia tuk mendengarkan ceritamu yang banyaaaak :D

Aku rindu itu sholihaah :'(
Hal ini menjadi koreksi besar untukku.
Maafkan aku yah, meskipun aku tau kamu tak akan baca tulisan ini.

Miss you so much :'(

Selasa, 24 September 2013

Random (II)

Taraaaaaaa! welcome back to Nangor, Nadh! *tsaaaah..
setelah 3 bulan pergi melambaikan tangan dari Nangor, tepatnya Rabu 11 Sept kemaren balik lagi ke Nangor. Kayak ga sabar gitu mau liat perubahan Nangor serta orang-orangnya.

aaaand, you guys? balik ke Nangor kali ini sebagai mahasiswa tingkat akhir, hiks.. cepet pisanlah waktu berputar. Dan ga sabar juga, gimana rasanya nyusun Tugas Akhir itu :'D

cem-macem euy rasanya, disaat tingkat akhir gini, amanah terasa menggila. Dengan jumlah setengah jari tangah. Mencoba calm menjalaninya, dan selalu husnudzon. Kalo dibayangin mah, gak akan ada abisnya, hehe.

Setengah pekan pertama di Nangor, ga bisa diem di kost. Ada aja perlunya di luar kost. Padahal belum mulai kuliah, tapi riweuhnya kayak orang lagi kuliah. Seakan "membayar, hutang-hutang" pas balik ke Nangor tuh. Ketemu si ini, si itu, melepas rindu, ngerjain ini, ngerjain itu yang ke pending gegara liburan :'D

Jadi inget, ahad lalu, bareng anak-anak KAMMI yang lain, kita jenguk Kak Nandang. Dengan gaya kekeuh si gue, jadilah kita ke Sumedang dengan modal nekat yang entah setebal apa, haha. Kalo diinget, Nadhia kayak melakukan pembohongan publik sama orang-orang itu, maaap bangeeet T_T
*semoga ga ada yang baca tulisa ini, hihii*
daaaaaan, begitu tiba dirumahnya, ketemu orangnya, ada rasa lega yang hadir. Lega karena bisa ketemu lagi sama Kak Nandaaaang. Dari bulan Juni dong kita ketemu terakhir, itupun dibatasi hijab karena lagi syuro. Haha. Kangen pisanlah sama crew M. Natsir beserta nahkodanya yang jarang hadir karena sakit. Semoga cepet sembuuuuuuuh :')

**
Random (II) ini ngebahas lebih banyak tentang organisasi yang lagi digeluti. Back to Nangor itu diingatkan dengan banyak amanah. Hey Nadh! lo tuh sebagai ini loh, lo tuh sebagai itu loh! ayo kita kerjakan lagi proyek Allah ini *istilahnya gitu*
Tapi ternyata, ada hal yang pelik hadir, ketika ingin bersemangat kembali. Seperti kecolongan, harus miss sama salah satu crew. Hey! we're missed you, so much! wake up brother, we always waiting for you in here! ALWAAAAYS! *semoga dia baca*
Dan kemarin pun, janjian ketemuan sama si brother, ngobrol banyak dan panjang. Sampe si brother meneteskan air matanya :'(. Maap yaaa, ini hanya bagian dari usaha kita. Selebihnya, do'a-do'a tersembunyi itulah yang akan mustajab, insyaAllah.

Kau tau? tak perlu menjadi manusia langit, jika menjadi ketua. Kalo harus menunggu seperti itu, Pak SBY pun tak layak menjadi presiden kita. Brother, yang kita butuhkan adalah belajar, belajar dan memantaskan diri. Karena proses belajar itu adalah seumur hidup. Tentunya dengan kesabaran. Semuanya itu butuh proses dan proses segalanya. Kau juga tau kan, bahwa hasil tidak menjadi nomor utama dan pertama dari kebanyakan peristiwa, dan kau pasti tau yang dilirik adalah prosesnya :')
Dan juga memantaskan diri dengan apa yang sedang dijalani, bukan untuk pencitraan loh! tapi untuk menjadi lebih baik dari hari ke harinya.. :')

Seperti hal-nya semangat yang mudah menular, ternyata "low-bat" itu juga ya? aah! entah pikiran aku yang bagian mana, yang berhasil mengirimkan sms yang menyatakan aku give up ke para sesepuh itu. Dan hingga detik ini, aku masih bungkam jika ditanya. Anak mama dasar! selalu pake perasaan!
Semangatku seakan stuck disini :'(
Berusaha menyemangati si brother tapi stock semangat untuk diri sendiri pun semakin low..
Allaah :'(
Aku juga sadar kok brother, kalo disini itu tuh minim perhatian. Tapi, bukan itu kok yang dicari. Sekali lagi, semua ini adalah proses belajar untuk kita semua. Mungkin dengan adanya hal demikian, kita bisa menjadi lebih dewasa lagi, lagi dan lagi.
Mendengar cerita si brother pas kemarin, aku jadi inget, dulu pernah kok aku mengalaminya. Haha. Ababil banget yah seumuran kita ini. Tapi entah kekuatan apa yang bisa bikin aku move on.
Brother juga harus move on ya! yippiie! semangat brotheer! haha.

Brother tau? kita semua sayang sama brother, ada yang bisa show up gimana perhatiannya, tapi ada juga yang hanya dalam diam memberikan perhatian. Setiap orang tuh beda-beda, catet yah hehe.

Pokoknya, kita pintu rumah kita akan selalu terbuka untuk brother :')
dan akan ada banyak telinga dan hati, yang siap untuk mendengar keluh-kesah brother, percayalah :')

Semangat yah brother! semangat dimanapun kamu berada :')

*dari jundimu, yang masih childish, hehe ^^v
 

Random (I)

Let's say with Basmallah :')

waaah, dah lama ga nge-blog disini, selain belom punya pulsa modem juga kayak ga sanggup gitu buat merangkai kata-kata, padahal kadang ada aja ide buat nulis.. hiks :'( butuh banyak baca nih kala tangan kaku untuk menulis -quote-

Sebenernya mah banyak kisah akhir-akhir ini, macem-macem kategorinya *gayalaaah :'D
Dari kisah keluarga, diri sendiri, teman sampe organisasi *fiyuuh ~

flashback dikit yuk! biar ada goresannya di tiap kejadian, walau hanya satu atau dua paragraf :')

**
Sekitar hampir sebulan setengah yang lalu, dapet kesempatan lagi buat bersilaturahim jarak jauh: mudik. Mudik ke kampung-nya mama, Palembang! cihuy bangetlah bisa kesana lagi, setelah 5 tahun ga kesana. Haha. Dan waktu kemarin kesana datang dengan keadaan yang beda, hehe. 
Selama disana, hal yang paling menyisakan ingatan itu adalah tentang kondisi rumah nenek yang sudah tua. Sedih ngeliat bangunan tua yang masih kokoh itu. Warna cat-nya ga berubah, tetap putih, hanya saja sudah begitu banyak noda di dinding-dinding tua. Kini, tak ada lagi anak atau kerabat nenek yang tinggal disana. Yang ada hanyalah barang-barang tua nan langka, serta kenangan. Yap! kenangan yang tak ternilai harganya. Meski dan walau aku ga pernah stay lama dirumah itu, tapi memory ketika datang kesana selalu melekat jelas diingatan. Dulu, waktu kerumah itu, rumah masih rame. Rame dengan kedatangan uwak, serta sepupu-sepupu ataupun keponakan. Suka lari-larian di dapur rumah nenek yang gede banget, haha, dasar anak kecil. Trus juga suka takut kalo mau keatas sendirian. Suka main ke kebun belakang rumah juga, bahkan waktu itu kakak pernah kecebur di empang buatan di belakang rumah, gara-gara kita main perahu pelepah pisang sama kakak sepupu, haha, itu tuh kenangan yang ga bisa dilupain. 
Ah! rumah itu, unik banget, kenangan dan bangunannya yang unik.
Kini, silih berganti orang datang kerumah itu, dan kini satu persatu pemilik rumah itu pergi, ada yang pergi selamanya dan ada pula yang hanya berpindah jarak, contohnya mama. 
Sempet nanya gini ke mama "mama ga sedih ngeliat rumah nenek sekarang?" dan mama jawab "ga sedih, cuma pilu" T___T
Semakin sadar, semegah apapun bangunan yang kita buat, toh nantinya juga akan kita tinggalkan, cepat atau lambat. Dan kini, rumah yang besar itu, seakan hanya menjadi museum keluarga besar Kakek dan Nenek Palembang. Sedangkan memori-memori indah itu, biarlah ia hidup sepanjang usia orang-orang yang pernah tinggal disana, meski bangunan itu tak lagi terurus :'(

Jika saja, dinding-dinding rumah itu dapat berbicara, mungkin mereka tak ingin ditinggal pergi oleh penghuninya. Tapi, inilah hidup, tak selamanya kita tinggal dibumi ini..

Maka, ada bangunan yang semakin kita tinggalkan, maka semakin kita ingin kembali padanya. Itu adalah rumah serta dengan kenangannya :')

sayang, ga punya dokumentasi rumah nenek, nyesel banget lupa fotonya :(
oh ya, sebelum pulang ke Jakarta, uwak bilang gini "janji ya untuk balik lagi kesini" dan aku hanya menjawab dengan senyuman. Dalam hati berkata "one day, InsyaAllah.. :')"



Dokumentasi pribadi : Foto Jembatan Ampera dibawah langit cerah :')

Jumat, 16 Agustus 2013

Act Egypt

16 Agustus 2013, satu pekan setelah Hari Raya Idul Fitri. Tepat dihari Jum'at yang penuh berkah, di bumi pertiwi ini, ada 18 titik aksi solidaritas #SaveEgypt. Aksi akbar yang serentak diserukan guna menyuarakan isi hati kami, masyarakat Indonesia yang terdiri dari banyak elemen, bahwa kami peduli dengan mereka, saudara se-iman kami. Meski kami berdiri di masing-masing pijakan, tapi kami memiliki tujuan yang sama. Segala bentuk label politik, organisasi, dan berbagai kepentingan egois lainnya seakan kami lupakan demi saudara-saudara kami. Karena sudah menjadi rahasia umum, bahwa tragedi ini sudah bukan lagi kita liat atas nama organisasi, tapi atas dasar kemanusiaan. Dalam kurun waktu beberapa jam saja, sudah ribuan orang tak bersalah mati, dan kami semua berharap, mereka mati syahid. Itulah tujuan mulia dalam hidup seorang muslim --syahid-- dan saat ini mereka sedang menjemput seni kematian terbaik, terindah --syahid-- 
AllahuAkbar :'(

Begitu dahsyatnya gelombang iman yang Allah titipkan pada hati-hati ini, mengapa? Karena sesuatu yang bernama iman itu berbuah manis. Kami memang tak pernah melihat sekalipun saudara-saudara yang ada disana, bahkan tak pernah kami bisa bayangkan seperti apa wajah mereka. Tapi, begitu kami mendapat kabar bahwa mereka tertindas, teraniaya dengan alasan yang tidak jelas, seakan membuat kamipun sakit. Karena memang begitulah hakikatnya ummat islam, bersaudara dan diibaratkan sepert satu tubuh.

Saudaraku, langit Jakarta hari ini seakan turut mendukung aksi solidaritas kami. Ribuan massa aksi hadir disini. Tak hanya manusia-manusia dewasa tapi banyak juga makhluk kecil bermata bening yang hadir ditengah kerumunan massa. Dimulai dari Pkl 10.00 WIB dari depan gd. UOB, kami para mahasiswa dari berbagai almamater dan bendera organisasi memulai 'pemanasan'. Dengan kontrak waktu yang diberikan oleh Pak Polisi sampai Pkl 10.30 ditempat itu, cukup membuat semangat kami terbakar oleh orasi dari para orator juga dengan panasnya mentari yang bersahabat. Tidak lupa, taujih Rabbani dibawakan oleh salah satu ikhwan dari UNJ, surat yang dilantunkan adalah As-Shaff :') semakin syahdu rasanya aksi kami ini. Sang korlap, mahasiswa FISIP UI membawa kami hanyut dalam suasana aksi, pembacaan press release yang dibacakan oleh Ketua Salam UI, semakin membuat kami yakin mengapa kami memilih untuk berpanas-panas ria diatas aspal jalanan ini. Massa aksi akhwat pun dimobilisasi dengan metromini yang sudah disiapkan untuk menuju TKP (Istiqlal) TKP berubah haluan karena di HI akan ada sterilisasi untuk HUT RI, besok. Tapi tak membuat niat dan semangat kami berubah haluan.

Masjid Istiqlal menjadi saksi bisu dari para pejuang jalanan itu, berkumpul, melingkar di satu dan lain tempat. Mengisi energi raga dan jiwa. Sholat Jum'at yang dilakukan para ikhwan sangat menggetarkan qalbu, 3 lantai dari masjid terbesar se-Asia Tenggara itu penuh oleh jama'ah, diakhir sholat jum'at, sang imam tidak lupa mengajak para jama'ah membacakan qunut nazilah untuk kaum muslimin di dunia ini. Selesai salam, imam langsung bangkit tuk mengajak jama'ah sholat ghaib. Semakin membuat hati bergetar. Lebih dari 40 kepala mendo'akan mereka, belum lagi para malaikat yang menaungi langit-langit masjid, seakan semakin yakin bahwa do'a kami akan terkabulkan :')

Setelah dirasa cukup atas asupan jiwa dan raga, kami semua melakukan longmarch dari istiqlal menuju kedubes AS. Awalnya, barisan kami hanyalah barisan mahasiswa, lama kelamaan menjadi bersatu padu dengan masyarakat umum, para abi'ers, ummi'ers yang membawa 2, 3, 4, 5 anaknya tidak mau kalah. Menyanyikan beberapa nasyid haroki, bertakbir yang seakan menggetarkan langit yang cerah. Kalian tau saudaraku? tidaklah saling mengenal lama kami, para massa aksi, wajah mereka terasa asing, bersua pun kebanyakan baru siang tadi. Tapi ada hal aneh yang membuat kami merasa nyaman, meski berdesak-desakkan, ukhuwah islamiyah.. ya, ukhuwah islamiyah yang membuat kami merasa nyaman. Itulah salah satu efek dari iman kami.

Rabb, begitu indahnya ukhuwah kami ini.. semoga saja iman kami terus menggelora hingga ruh berpisah dari jasadnya. Istiqomahkanlah kami, meninggalkanlah kami dalam keadaan khusnul khotimah, juga syahidkanlah kami.. seperti mereka, saudara kami di Mesir, yang syahid.. InsyaAllah :')

Aku, Kami, mencintai kalian wahai saudara seiman.. karena Allah. Teruslah berjuang menegakkan kebenaran, karena Allah akan menolong para jundullahNya.. 

Selasa, 13 Agustus 2013

Noktah Kelabu

Sesingkat atau sepanjang apapun kisah anak manusia, pasti akan ada benang hikmah yang bisa kau tarik. Dan tentunya hikmah ini hanya bisa ditarik oleh orang-orang yang mau berfikir. Itu yang aku tahu.
Demikian dengan kisah lampau, kalian tahu kan? bahwa yang bisa kita lakukan dari masa lalu adalah mengambil hikmahnya dan mempelajarinya agar tidak terulang lagi hal yang buruk dan menjadi lebih baik lagi untuk masa lalu yang baik.

Ini tentang hati anak manusia -perasaan- 
Berbicara mengenai hal ini memang membutuhkan waktu khusus dan panjang untuk membahasnya. Karena akan ada begitu banyak cabang pembicaraan dari topik ini. Kau tau, bahwa perasaan adalah hal yang sensitive? Ya, hampir setiap orang mengetahuinya. Lalu, apa yang harus dibahas dari perasaan ditulisan ini?
Entah, hanya ingin sedikit membahas dan mengungkapkan apa yang terlintas dibenak. Hanya ingin menuliskan, bahwa perasaan itu adalah hal abstrak, mungkin sama abstraknya dengan ruh yang menghuni tubuh manusia. Mereka sama-sama tak terlihat tapi mampu dirasakan dan mampu mengendalikan anak manusia untuk berbuat sesuatu. Yaa, percaya atau tidak yang pasti memang demikian nyatanya.

Kau tahu? bahwa ada anak manusia yang membenci dengan perasaannya. Ya, ia benci dengan noktah-noktah kelabu yang hinggap dihatinya. Anak manusia ini tak ingin merasakan hal itu saat ini, tak ingin. 
Kau tahu? seakan ada satu pintu di gumpalan daging ini yang semakin hari semakin tertutup rapat. Seakan tak ingin terusik (untuk saat ini). Tapi ternyata sakitpun turut menjadi rasa seiring pintu itu tertutup.
Tetapi, kau tahu? anak manusia ini paling tidak suka dibohongi dan ternyata tak bisa juga membohongi diri sendiri.
Dan, kau tahu? banyak hal yang tidak bisa ditafsirkan dari noktah-noktah itu dari semilir perasaan itu. Tak sanggup pula anak manusia ini menafsirkannya.

Kini, anak manusia itu hanya ingin bersahabat dengan waktu yang berbaik hati dan menjadikannya produktif lagi. Dan untuk lebih produktif lagi, memang ada yang harus dilepaskan dibagian 'ini' agar menjadi lebih lega dirasa, agar tidak pernah merasa sesak lagi memenuhi dada..

Yaa, aku tahu :')

Maaf, ternyata ada hati yang belum bisa memaafkan siluet itu.. ~

Salam 'Maaf' dari Jakarta :')
13  Agustus 2013

Minggu, 11 Agustus 2013

Itukah Cinta?

"Nadh, inget dengan si Y (wanita) sama M (pria), engga? dulu mereka pernah jadian tau. Tapi sekarang udah putus. Dan waktu itu si Y cerita, katanya mereka udah pernah 'melakukan' hal itu. Astaghfirullah. Kalau keinget sama si Y, diriku pasti inget akan cerita itu. Dan sedihnya lagi, si Y itu anak dari hasil diluar halal juga dari orang tua-nya. Waktu itu si Y yang cerita sendiri."

Kaget, engga nyangka banget kalau inget-inget sosoknya Y yang terlihat polos. Usia Y 1 tahun dibawahku, tapi ternyata pikirannya lebih 'dewasa' beberapa tahun dariku. Astaghfirullah. Na'udzubillah. Inilah salah satu yang dikhawatirkan dari pergaulan jaman sekarang. Bisa saja tidak ada niat, tapi bisa saja terjadi jika kesempatan itu terbuka lebar. Astaghfirullah!

Entah apa yang terjadi pada saat itu, entah apa perasaan mereka saat itu, entah bagaimana kondisi fisik dan psikis mereka (terutama Y), entah, entah, entah. 

Atau, inikah yang disebut dengan CINTA? cinta yang katanya mampu membutakan mata siapa saja bagi para insan yang sedang dimabuk olehnya. Tapi, apakah harus dengan cara demikian sepasang anak manusia mengekspresikan cintanya? bukankah cinta itu suci? karena datang dari Yang Maha Suci. Setelah hal demikian terjadi, maka cinta itu tidak lagi suci. Allaah :'(

Dan jika hal seperti itu sudah menjadi nyata, lagi-lagi yang menjadi korban adalah wanita. Selalu demikian! begitu rapuhnya wanita untuk hal-hal seperti ini. Dan pria? bisa saja mereka pergi jauh meninggalkan wanita itu sejauh mungkin. Wallahu'alam..

Mendengar kisah tragis yang menyayat hati, membuatku bersyukur dengan apa yang sedang ku jalani saat ini -tarbiyah- aku merasa sangat safety dengan masuk ke lingkaran itu. Karena, ada banyak hal yang diajarkan di lingkaran itu yang tidak diajarkan dari orang tua, dari bangku akademik. Dan tentunya, begitu bersyukurnya aku dikaruniai orang tua dan keluarga yang sangat berusaha menjaga anak gadisnya dari pergaulan yang buruk dan memiliki perlindungan serta perhatian yang luar biasa.

Allah, lindungilah kami para pemuda yang selalu berusaha menjaga kesucian kami semua. Bantulah kami untuk bisa menghindar dari segala macam bentuk zina. Jika memang waktunya sudah tepat untuk menjadi halal antara satu dengan yang lain, maka, mudahkan dan segerakanlah Ya Allah, supaya kami tidak terjerat pada bisik halus syaitan yang menyuruh kami semakin larut berbuat zina. :'(

Mencintai memang bentuk kata kerja, dan memang butuh pembuktian dari kata mencintai tersebut. Tapi, bukanlah dengan hal demikian pembuktian dari kata mencintai itu sendiri. Hanya dengan satu gerbanglah pembuktian itu "Khitbah-Ijab Qabul-SAH"

Wallahu'alam..

Rabu, 07 Agustus 2013

Menyambut dan Mengantarmu, Ramadhan.

Kedatanganmu yang dinantikan, kini kepergianmu yang sudah diambang pintu..

11 bulan kami menunggu, bahkan dalam proses menunggu itu ada kalanya kami lupa bahwa kamu akan datang. Dan, lucunya kami akan teringat akan dirimu lewat iklan-iklan sirup, iklan-iklan sale pakaian di berbagai departemen store, iklan-iklan biskuit yang katanya selalu cocok untuk dibawa silaturahim.
aah, lucu sekali kami ini, baru ingat akan kedatanganmu dari para penggiat iklan-iklan di TV itu yang selalu bermotifkan komersial. Selalu demikian.
11 bulan kami menunggu, terkadang tidak kami persiapkan latihan-latihan ibadah itu dengan semaksimal mungkin. Karena, 11 bulan itu adalah bulan latihan sedangkan yang 1 bulan ini adalah bulannya lomba, ya! lomba menabung dan memperberat kantong-kantong amal tentunya berlomba-lomba menggapai RidhoNya. Karena hanya dengan RidhoNya lah kita bisa masuk ke JannahNya.. Bukankah itu impian semua insan? :)
11 bulan kami menunggu, terkadang kami sering isi dengan berbuat maksiat, entah secara batin mau secara dzahir. Padahal, 24 Jam nonstop bahkan hingga ruh ini berpisah dengan jasadnya, Engkau tidak pernah memperbolehkan kami tuk berbuat maksiat. Iya bukan? Selalu dan pasti demikian. Lantas, kenapa kami baru sadar ketika yang 1 bulan itu akan datang? ah, lagi-lagi manusia ini!
11 bulan kami menunggu, dan ketika engkau datang harus dihiasi dengan perdebatan garing para ulama tentang awalnya-juga akhirnya dari bulanmu.
11 bulan kami menunggu, ada dibeberapa bahkan banyak dibawah atap-atap rumah sana yang membiarkan mushaf-mushaf itu tersimpan rapi, bahkan sangat rapi hingga debu beberapa cm menjadi covernya, hingga sarang laba-laba tak mau kalah menemani lembar-lembar Kalimat CintaNya. Ah! manusia ini! dan engkau, mushaf-mushaf mulia baru akan tersentuh dan keluar dari tempat peristirahatan kala 1 bulan itu datang, dengan berbagai kecepatan manusia-manusia itu berlomba-lomba untuk membaca Ayat-ayat CintaNya itu. Bahkan, terkadang melupakan rambu-rambu yang ada.

Dan, rasa malu menyergap beberapa insan.
Ya, kami malu padamu yang datang hanya sekali dalam setahun, hanya 30 hari! tapi tidak maksimal kami memanfaatkanmu. Tidak secara continue kami menghidupkan malam-malamNya. aah, sungguh sangat malu kami padamu yang selalu memberi kesempatan pada kami.
10 malam pertama dibulanmu, masjid masih penuh dengan manusia-manusia yang menggelora semangatnya.
10 malam kedua dibulanmu, masjid mulai diduakan oleh manisnya iklan-iklan great sale di banyak departement store. Manusia pun lebih memilih thawaf di beberapa mall ketimbang menjadi makmum untuk bertarawih dirumahNya.
10 malam ketiga dibulanmu, masjid seakan sudah terlupakan oleh beberapa insan. Shaff yang ada di masjid hanya 3 baris, itupun tidak penuh. Mereka lebih memilih menggunakan malam mereka untuk mempersiapkan lebaran yang katanya sudah sebentar lagi.

Ramadhan, kini kau sudah diambang pintu kepergian. Kami mengantarkanmu dengan ibadah-ibadah yang tidak se-great obral pahala yang kau tawarkan.  
Ramadhan, kami adalah insan-insan berdosa, tapi kami pun juga merasakan kehilangan dirimu, kami akan rindu padamu dengan berbagai kenikmatan yang ada didalamnya.
Ramadhan, maafkan kami yang tak bisa menjamu-mu dengan sebaik-baiknya hidangan ibadah kami.

Kami malu padamu, ramadhan.
Maafkan kami.. terimakasih atas milyaran pahala yang sudah kau sediakan untuk kami.
Kini, kau akan pergi 11 bulan lamanya. Semoga kami dapat berjumpa denganmu dalam keadaan yang lebih baik lagi.
Semoga ramadhan kali ini melahirkan banyak generasi muttaqin. Aamiin :)

Jakarta, 29 Ramadhan 1434 H