Minggu, 22 Juli 2012

Allah, izinkan aku tuk mengenal cinta..

diusia ku yang sudah 19thn, mungkin sudah saatnya aku 'mengenal' arti cinta..
hmm..terlalu berat sih bahasanya 'cinta' haha.
tapi entah mengapa tiba-tiba aku merasakan hal ini.. melankolis banget sih kalo ngebahas ini.. tapi mau gimana lagi ini fitrahNya juga kok :) #pembelaan

terkadang aku merasa, apakah aku normal? hm, kalau iya kenapa terkadang disaat anak seusiaku sibuk dengan 'pacar, cinta, dsb' sedangkan aku malah sibuk dengan duniaku sendiri.. dunia yang buat remaja yang lain terbilang 'kuno, extrem' tapi inilah aku...
yang aku heran, kenapa dari sekian banyak cowo, pria, ikhwan yang aku kenal atau hilir mudik di lingkungan, atau yang sering contact-contactan tak satupun yang nyangkut.. ini pertanda apa ya??? hhaaha

Tapi, justru dengan keadaan ini aku sangat bersyukur, itu artinya aku masih di jaga oleh Allah untuk hal-hal yang ga penting itu #eh penting jika sudah tiba waktunya :D# yaaa, aku sangaaaatt bersyukur akan hal ini..
Allah tak ingin aku 'tersentuh' oleh hal-hal itu,, mungkin menurut Allah lebih baik aku sibuk dengan kegiatannku yang positif dengan visi misi yang positif juga..

Tapi, sekali lagi entah mengapa ingin rasanya aku mengenal kata 'cinta' itu,, hanya mengenal..
tapi aku ga tau harus mengenalnya dimana..
pencarian ini akan terus berlanjut hingga waktunya tiba dan jika Allah sudah mengizinkan.. :)

di sudut ruangan,,
Jakarta, 08.25 WIB

Bergerak itu perlu !!

saat ini, sebagai seorang manusia yang masih mengalir darah muda-nya saya merasa sedang menggebu-gebu akan asa itu.. menggebu-gebu untuk banyak hal (dalam kebaikan yah).
entah mengapa,, jika saya melihat pemuda lain mampu bergerak lebih walau hanya selangkah !!
yap, ternyata memang benar adanya bahwa seorang pemuda itu cenderung memiliki sifat tidak mau kalah -iri- lantas, dengan rasa iri itulah yang membuat saya seakan 'terus' semangat, semangat melangkah lebih maju dari mereka.

entahlah, rasa seperti ini datang dari mana dan dapat dorongan dari mana. Yang pasti, saya yakin ini datang dari Yang Maha Menciptakan rasa. Rasa yang luar biasa ini harus saya keep sehingga tetap pada koridornya. Tetap pada niat yang lurus. Jangan sampai rasai 'iri' ini menguasai hati dan pikiran sehingga segala cara dihalal-kan #na'udzubillah

Dan, salah satu hal yang saya lakukan untuk bergerak lebih maju adalah dengan cara terus mendekatkan diri padaNya karena itu adalah salah satu kunci yang bisa membuat saya tetap pada koridornya..
perbaiki dan refresh niat >> lillahi ta'ala << setelah itu saya akan men-ejawantahkan apa yang sudah menjadi tujuan saya, dengan konsep-konsep yang saya buat maka itu akan saya realisasikan #optimis :D

Insya Allah,
Pemudi 19thn, yang pikirannya penuh akan visi misi untuk memajukan diri, keluarga dan ummat tentunya.

Pagi hari yang cerah >> Hari kedua Ramadhan..
Jakarta, 22 Juli 2012
06.24 WIB

Jumat, 13 Juli 2012

maafkan insan ini..

sungguh, sangat sombong sekali insan ini..
ketika gunung-gunung menolak amanah itu, tapi insan yang memiliki keterbatasan justru menerimanya..
amanah-amanah ini..
sungguh membuatku sedikit tertatih..

namun, inilah jalan yang sudah ku pilih..
jalan menuju jannahNya dengan track yang berliku tajam..
tidak mudah memang menempuh jalan ini..
namun, dengan tekad yang kuat-lah hingga detik ini aku masih dapat bertahan..

amanah ini tidaklah mudah dijalankan..
amanah ini hanyalah sebagian kecil perjuanganku..
dipundak inilah tersemat amanah-amanah yang luar biasa..
tapi, apakah aku sanggup menjalankannya???

dengan segala keterbatasanku ini,,
dengan amanah yang luar biasa ini..
apakah akan sinkron keduanya??
Rabbi, kuatkanlah bahu ini..

bahu yang menjadi tempat amanah ini..
kuatkan pijakan kaki ini..
kaki yang akan berjalan dan berpijak dibumi jihad..
kuatkanlah seluruh tubuh ini..

seluruh tubuh akan akan terus berkerja dan berkorban..
sampai titik kemampuannku sudah habis..
dan yang terpenting, kuatkanlah hati ini..
hati yang menjadi tolak ukur keberhasilan kerja da'wah ini..

jika hati ini lurus, maka segala usaha dan upaya pun akan diridhoi-Nya..
namun, jika hati ini berbelok dan bermain-main di da'wah ini..
sungguh azabNya sangat pedih..
Rabbi...

Rabbi, maafkan insan ini jika memiliki segudang kesalahan..
maafkan insan ini jika ada amanah yang tak terjalani..
maafkan insan ini atas tinta-tinta hitam yang tergores diatas lembah putih..
insan serba penuh kekurangan..

Luruskan dan refresh niat selalu..
bekerja ikhlas..
pantang menyerah..
dan kuatkan 'azzam..

Insya Allah, Innalaha ma'ana :)



Memories of Anyer :)

manisnya perjalanan da'wah putih abu-abu ini, napak tilas perjuangan beberapa tahun silam di Anyer..

29 Juni s/d 01 Juli 2012 

diatas bumi Allah ini, kami merajut ukhuwah yang sudah lama terjalin :)








Sungguh, perbedaan itu adalah RahmatNya :)


Pelajaran Khilafiyah Dari Hasan Al-Banna

 Hasan Al-Banna punya sebuah majelis
 taklim. Majelis ilmu itu dilaksanakan di sebuah masjid
 pada malam hari. Jama'ah pengajian itu semakin hari
 semakin membludak saja. Maklum, tutur kata ustadz muda
 itu begitu menyentuh jiwa.

 Suatu hari, Hasan Al-Banna merasakan
 adanya nuansa aneh di majelis taklimnya. Jama'ah
 pengajiannya duduk berkelompok. Ada dua kelompok
 besar. Masing-masing mengambil jarak. Sebelum lagi
 Hasan Al-Banna memulai acara taklimnya, tiba-tiba
 sebuah pertanyaan mengejutkannya. Sebenarnya nada
 pertanyaan itu datar saja, tapi hati Hasan Al-Banna
 yang begitu peka menangkap sebuah pesan yang besar
 dalam pertanyaan itu.
 "Bagaiman pendapat ustadz mengenai
 tawassul?" Sang guru yang ditanya terdiam sejenak.
 Ditatapnya si penanya. Disapunya satu per satu hadirin
 yang menatapnya dengan raut wajah menunggu.
 "Wahai saudaraku," sapa Hasan Al-Banna jernih kepada
 si penanya. "Saya yakin engkau tidak hanya bertanya
 tentang  tawasul saja. Engkau juga ingin bertanya
 tentang membaca salawat setelah azan, membaca Al Kahfi
 di hari Jumat, mengucap kata sayyidina dalam tasyahud,
 juga tentang membaca Alquran yang pahalanya ditujukan
 untuk mayit seseorang."
 Jama'ah majelis taklim itu kaget. Guru
 mereka bisa membaca isi pikiran mereka. Dan Hasan
 Al-Banna memang sengaja mengungkap beberapa masalah
 khilafiyah yang sedang mereka ributkan. Masalah itulah
 yang membuat murid-muridnya duduk
 berkelompok-kelompok.
             "Ya, benar. Saya memang ingin jawaban
 tentang itu semua," ujar si penanya tadi. Hasan
 Al-Banna menatapnya lembut. "Wahai saudaraku, saya ini
 bukan ulama. Hanya guru biasa yang hafal sebagian
 ayat-ayat Alquran, hadits, dan hukum-hukum
 agama yang saya baca dari beberapa kitab, lalu saya
 mengajarkannya kepada kalian. Jika engkau membawaku
 keluar dari lingkup itu, berarti kalian telah
 membuatku mengalami kesulitan," ungkap Hasan Al-Banna
 jujur.
             "Oleh karenanya, jika apa yang akan saya
 katakan dapat memuaskanmu, itulah yang saya inginkan
 dan silakan mendengarkan. Namun, jika engkau
 menginginkan jawaban dan pengetahuan yang lebih luas,
 maka tanyakanlah kepada
 selainku. Tanyakan kepada para ulama yang ahli.
 Merekalah yang mampu memberikan fatwa kepadamu
 mengenai apa yang engkau inginkan itu. Adapun saya,
 hanya inilah kapasitas keilmuan yang saya miliki.
 Allah tidak membebani seorang hamba melainkan sebatas
 kesanggupannya," lanjut Hasan Al-Banna.
             Rupanya, ungkapan merendah Hasan Al-Banna
 itu berhasil mencairkan suasana kaku yang tercipta di
 antara hadirin. Mereka tampak lega dengan apa yang
 dikatakan guru mereka. Melihatnya, diam-diam Hasan
 Al-Banna bertahmid kepada Allah swt. Nalurinya sebagai
 pendidik tergugah. Ini saat yang tepat untuk memberi
 pelajaran yang lebih kepada murid-muridnya.
             "Wahai saudaraku sekalian, saya sebenarnya
 tahu betul kemana arah pertanyaan tadi. Kalian ingin
 tahu saya ini termasuk kelompok Syeikh Musa atau
 Syeikh Sami. Ketahuilah, hal ini sama sekali tak
 bermanfaat bagi kalian. Kalian sudah tenggelam dalam
 iklim fitnah selama selama delapan tahun ini. Itu
 sudah cukup, " ucap Hasan Al-Banna memecah di
 keheningan masjid.
             "Masalah-masalah yang kalian perselisihkan
 sebenarnya sudah diperselisihkan oleh kaum muslimin
 selama ratusan tahun lamanya. Dan mereka masih saja
 berselisih. Meski demikian Allah swt. tetap ridha
 apabila kita saling mencintai dan saling menjalin
 persatuan. Allah swt. benci apabila kita berselisih
 dan berpecah belah. Oleh karena itu, saya berharap,
 kalian bisa berjanji kepada Allah untuk meninggalkan
 persoalanpersoaalan semacam ini sekarang. Lalu kita
 bersungguh-sungguh untuk bersama-sama mempelajari
 dasar-dasar agama dan kaidah-kaidahnya, mengamalkan
 anjuran anjuran agama yang kita sepakati bersama,
 serta kita amalkan kewajiban-kewajiban dan
 sunah-sunahnya sekaligus. Kita tinggalkan sikap
 takalluf (mengada-ada) dan ta'ammuq (terlalu dalam
 menyelami persoalan) agar jiwa kita jernih. Dengan
 begitu, kita semua bisa mempelajari berbagai persoalan
 dalam naungan rasa cinta, saling percaya, persatuan,
 dan keikhlasan. Saya berharap agar kalian dapat
 menerima pendapatku ini dan agar hal ini menjadi suatu
 janji di antara kita," tutur Hasan Al-Banna panjang
 dan mendalam. Semua terdiam. Tampaknya mereka butuh
 contoh konkret atas uraian tadi. Hasan Al-Banna
 kembali menghentak keheningan itu.
             "Siapa di antara kalian yang bermazhab
 Hanafi?" Seseorang mengacungkan jari. "Kemari!"
 "Siapa di antara kalian yang bermazhab Syafi'i?" Satu
 orang lagi maju, mendekat ke guru muda itu.
 "Saya akan shalat dan mengimami kedua saudara kita
 ini," kata Al-Banna kepada jama'ah majelis taklimnya.
 "Apa yang kamu lakukan saat saya sedang membaca
 Al-Fatihah?" tanya Hasan Al-Banna kepada muridnya yang
 mengaku bermazhab Hanafi.
 "Saya akan diam saja dan tidak membaca apa-apa."
 "Saudaraku yang bermazhab Syafi'i, apa yang kamu
 lakukan?"
 "Saya tetap harus membaca AlFatihah!" jawabnya tegas.
             Hadirin mendengar jawaban kedua itu. Hasan
 Al-Banna kembali melemparkan pertanyaan. "Jika kita
 telah
 selesai shalat, bagaimana pendapatmu, wahai saudaraku
 yang bermazhab Syafi'i, tentang shalat saudaramu yang
 bermazhab Hanafi?" "Shalatnya batal karena tidak
 membaca AlFatihah yang merupakan salah satu rukun
 shalat."
             Hasan Al-Banna melontarkan pertanyaan yang
 sama ke murid yang satunya lagi. "Lalu bagaimana
 pendapatmu,
 wahai saudaraku yang bermazhab Hanafi tentang shalat
 saudaramu yang bermazhab Syafi'i?"
 "Ia telah melakukan tindakan makruh yang bersifat
 haram." Mendengar kedua jawaban itu, Hasan Al-Banna
 segera mempertajam pertanyaannya. "Apakah karena
 alasan itu salah seorang dari kalian mengkafirkan yang
 lain?" "Tidak!" jawab keduanya cepat.
             Hasan Al-Banna kemudian berpaling ke
 seluruh hadirin. "Apakah ada di antara kalian yang
 mengkafirkan satu
 dari mereka karena bacaan Al-Fatihahnya?" "Tidak,"
 kata seluruh jamaah majelis taklim tegas.
             "Aduhai, Maha Suci Allah. Kalian bisa diam
 dan memaklumi permasalahan seperti ini padahal ini
 menyangkut sah atau batalnya shalat. Tapi, mengapa
 kalian berselisih tak kunjung usai hanya karena ucapan
 Allahumma shalli `ala Muhammad atau Allahumma shalli
 `ala sayyidina Muhammad dalam tasyahud?"
             Jama'ah majelis taklim itu tercengang. Ya,
 mengapa mereka bisa terjebak dalam perselisihan yang
 tak perlu. Dan logika sederhana guru mereka telah
 membongkar tempurung yang menutupi cakrawala berpikir
 mereka selama ini.
             Malam itu mereka mendapat pelajaran yang
 sangat berharga dari guru mereka, Hasan Al-Banna.

Kamis, 12 Juli 2012

Rindu Jatinangor.. -,-


Tulisan ini dibuat tepatnya 11 hari ketika aku ada di Jakarta, yaaa, baru 11 hari di Jakarta tapi aku sudah berkata ‘rindu Jatinangor’
hm..mungkin kalau kata-kata ini didengar oleh orang lain tepatnya orang-orang yang aku kenal di Jakarta mereka akan merasa sangat heran bahkan pasti ada diantara mereka yang berkata “gak salah tuh anak, udah lama gak pulang ke Jakarta kok malah kangennya Jatinangor??” haha, aku hanya bisa tertawa didalam hati ketika komentar orang lain mulai aneh-aneh..
sekarang pertanyaannya “kenapa aku rindu Jatinangor?”
akan ku jawab pertanyaan itu, buatku Jatinangor adalah sebuah tempat ‘baru’ untuk anak rantauan seperti aku ini.. namun, walaupun baru tempat ini memiliki chemistry yang ‘beda’ you know why??? because,,, disana banyaaak sekali sesuatu yang bermanfaat untuk diri sendiri dan juga untuk orang banyak :) senang rasanya bisa terlibat langsung disana..
di Jatinangor-lah aku diajarkan kemandirian, ukhuwah, memanage waktu, dan lainnya, banyak banget deh kalo disebutin satu-satu hehe..
kesibukan disanalah yang sangat aku rindukan, kesibukan yang terkadang ‘menggila’ sehingga lupa akan diri sendiri, sampe-sampe tempat kost hanya untuk singgah malam saja #parah -___-
tapi itulah chemistry-nya, kesibukan yang agak ‘menggila’ itulah yang sudah mengajarkan banyak hal padaku..
sedangkan, ketika aku sudah pulang kerumah tercinta -Jakarta- kesibukan itu seakan sirna bak ditelan bumi,, untungnya aku masih bisa berkecimpung didunia sekolah jadi gak mengalami stagnasi bangetlah, walau terkadang slalu dikomentari sama mama dan kakak “masih aja sih urusin gituan” dalam hati aku menjawab “inilah sensasinya menjadi seorang aktivis ma, ka” hehe..
tapi, kalo gak ada agenda apa2, cuma dirumah aja, pasti terbesit dibenak tentang cerita ustad Sofyan waktu terakhir belajar tahsin beliau bercerita gini katanya ” saya dulu punya temen, aktivis kampus, aktiiff bangget, tapi begitu dia pulang kerumah, dia malah kayak ayam sayur, mengalami stagnasi tanpa ada kegiatan apa2″ #jleb, dalem banget deh ustad -__-
cerita itu slalu teringat dibenakku,, astagfirullah,, aku tak ingin mengalami stagnasi itu.. BERGERAK NADH, BERGERAK !!
tapi sekarang ambil hikmahnya aja deh, kalo kata Teh Imah “saatnya biruwalidain Nadh”
yap, bener banget teh, kan jarang2 tuh ada dirumah gini, jadi harus dimanfaatakan untuk berbakti pada orang tua :)

well, that’s why I reallly miss Jatinangor :)
miss DKM Daarul Ikhwan, and miss KAMMI :)

Rabu, 11 Juli 2012

Bangkitlah Negriku

Tatap tegaklah masa depan
Tersenyumlah tuk kehidupan
Dengan cinta dan sejuta asa 
Bersama membangun Indonesia

Pegang teguhlah kebenaran
Buang jauh nafsu angkara
Berkorban dengan jiwa dan raga 
Untuk tegaknya keadilan

Bangkitlah negeriku harapan itu masih ada
Berjuanglah bangsaku jalan itu masih terbentang

Bangkitlah negeriku harapan itu masih ada
Berjuanglah bangsaku jalan itu masih terbentang

Selama matahari bersinar 
Selama kita terus berjuang
Selama kita satu berpadu
Jayalah negeriku jayalah!